Liburan di Kepulauan Rempah Banda


Vasco da Gama berkeliling Tanduk Afrika – sebutan untuk daerah di semenanjung Afrika Timur, Christopher Columbus mendarat di ‘Dunia Baru’ alias Benua Amerika, dan anak buah Ferdinand Magellan menjadi yang pertama mengelilingi dunia. Tiga petualang besar bangsa Eropa tersebut sesungguhnya memulai petualangan mereka demi mencari ‘harta karun’ yang terletak di Indonesia, yaitu daerah penghasil rempah Ternate, Tidore, dan kepulauan Banda.
Cakalele Bandanaira
Penari Cakalele. Foto: Clara Rondonuwu
Ternate dan Tidore tentu akrab di telinga wegonesia. Apalagi, satu-dua tahun terakhir backpackeryang keranjingan island hopping rajin menyebut dua tempat liburan eksotis di Maluku Utara tersebut di akun sosial media. Tetapi Banda, sayangnya hanya segelintir wisatawan yang paham dan pernah menginjakkan kaki di surga rempah tersebut.
Kepulauan Banda berjarak sekitar 140 kilometer tenggara Kota Ambon, Maluku. Luas kawasannya hanya sekitar 50 kilometer persegi. Jika Anda membolak-balik lembaran sejarah, barulah Anda paham betapa terkenalnya kepulauan tersebut di kalangan penjelajah Eropa.
Kepulauan Banda
Pulau Gunung Api, kepulauan Banda. Foto: Clara Rondonuwu
Sampai abad ke-19, kepulauan Banda merupakan daerah penghasil pala nomor satu (dan satu-satunya). Pada masa itu, harga pala di pasar Eropa tidak ternilai. Itu sebabnya Eropa mulai berusaha mengendus sumber rempah yang satu ini. Mereka menduga pala berasal dari daerah Timur Jauh. Sayangnya, para pedagang Arab yang menjual pala dengan harga selangit kepada pengepul di Venesia, mengunci mulut rapat-rapat. Mereka sangat merahasiakan lokasi sumber pala mereka.
Tak satupun orang Eropa yang berhasil menebak posisi persis dari surga rempah Banda, sampai pada tahun 1511 Alfonso de Albuquerque menaklukan Selat Malaka untuk Raja Portugis. Alburquerque mengirim tiga kapal untuk berlayar ke jurusan timur mencari surga rempah tersebut. Kapal-kapal pun mengarungi samudera, melewati Nusa Tenggara lalu putar haluan ke utara dan menemukan Banda.
Setelah masa perburuan rempah usai, Banda tetap memendam ‘harta karun’. Penyelam-penyelam tangguh dari berbagai belahan dunia datang ke tempat ini untuk menikmati harta karun Banda yakni taman laut yang sehat dan perairan sejernih kristal yang menawarkan petualangan bawah laut kelas dunia.
Kepulauan Banda merupakan salah satu spot penyelaman terbaik di dunia. Palung dalam, dinding bawah laut terjal, dan ikan-ikan besar di perairan Banda menawarkan pengalaman menyelam yang langka.
Kalau Anda berlibur ke kepulauan ini pada April atau Oktober, jangan lewatkan juga serunya balap kora-kora (sejenis lomba perahu naga) antarkampung yang biasa digelar di perairan antara Pulau Bandanaira dan Pulau Gunung Api.
Kepulauan Banda juga punya banyak bangunan bersejarah, antara lain Fort Belgica, Fort Nassau, Fort Hollandia, dan Fort Concordia. Dari atas benteng-benteng peninggalan tentara kolonial tersebut, wisatawan bisa menikmati pemandangan indah pulau-pulau sekitar. Ada pula museum menarik, yaitu Rumah Budaya yang menyimpan lusinan barang antik dan lukisan bersejarah, serta museum di bekas rumah pembuangan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir.
Rumah Budaya Banda
Koleksi uang kuno di Rumah Budaya, museum yang terletak di kepulauan Banda. Foto: Clara Rondonuwu
Wisatawan yang suka hiking dapat menguji stamina mereka di Pulau Gunung Api, sebuah gunung api setinggi 650 meter di atas permukaan laut. Untuk mendaki gunung yang terjal ini, wisatawan harus mulai mendaki dari pukul 5.30. Titik start yaitu stasiun pemantau gunung api, dari lokasi tersebut pemandu akan membimbing Anda melewati rute mudah sampai ke puncak.
Jika Anda tetap berjalan di jalur reguler, Anda akan sampai di puncak Gunung Api pada pukul 8.00. Saat langit cerah, dari puncak Gunung Api wisatawan dapat menikmati pemandangan kawah dan perkebunan kayu manis.
Siap angkat koper ke kepulauan Banda? Kalau iya, sebelum memulai perjalanan pilih musim yang tepat untuk berada di sana. Perairan Banda mulai tenang sekitar bulan Oktober-Desember dan Maret-Mei. Musim hujan berakhir antara pertengahan Juni dan Agustus. Sedangkan musim angin barat, alias selama periode ini angin bertiup kencang, berlangsung antara Juli dan Agustus. Selama periode tersebut, wisatawan sulit menikmati berbagai wisata bahari
Previous
Next Post »