hosting indonesia

Sungai Martapura Jadi Magnet Wisata Kota Banjarmasin


PUKUL 05.00 Wita di Kota Banjarmasin, suara azan Subuh berkumandang. Langit masih gelap. Setelah suara azan tidak lagi terdengar, yang terbiasa hidup di zona waktu Indonesia bagian barat biasanya tergoda melanjutkan tidur. Apalagi, pada hari Minggu. Pukul 05.00 Wita di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, masih seperti pukul 04.00 WIB.

sungai, martapura, batu, kecubung, bacan, borneo, kalsel, kalimantan, backpacker, backpacker borneo, adzan, banjarmasin, wisata tiket,
Menara Pandang di taman tepian Sungai Martapura di tengah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu ikon wisata sungai di kota ini. Bangunan yang selesai dibangun Pemerintah Kota Banjarmasin pada 2014 itu menjadi tempat bersantai warga untuk menikmati panorama kota dan sungai.

Setelah subuh setiap hari Minggu, sebagian warga di Kota Banjarmasin umumnya bergegas pergi ke pusat kota. Warga tumpah ruah di ruas-ruas jalan protokol di sekitar Masjid Raya Sabilal Muhtadin, terutama di ruas Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Pierre Tendean. Dua ruas jalan yang sejajar dengan Sungai Martapura itu menjadi pusat keramaian pada akhir pekan.

Berbagai kegiatan dilakukan masyarakat di kedua ruas jalan itu. Ini karena terdapat taman tepian sungai, yang oleh masyarakat setempat disebut siring. Aktivitas mingguan di jalan dan siring adalah olahraga, seperti jalan sehat, joging, senam pagi, dan bersepeda. Tak jarang pula ada kegiatan kampanye suatu produk, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Keramaian pada akhir pekan itu tidak hanya di jalan dan siring, tetapi juga di Sungai Martapura, yang membelah kota. Di sungai itu ada pasar terapung, yang menjual buah-buahan, tanaman, dan aneka makanan dan jajanan tradisional. Selain itu, ada hiburan musik tradisional dan kelotok (perahu bermotor) wisata, yang siap melayani warga menyusuri sungai.

Menurut Hasan Zainuddin, warga Kota Banjarmasin, kegiatan masyarakat di pusat kota baru hidup setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin serius menata Sungai Martapura. ”Beberapa tahun silam, daerah tepian sungai itu merupakan salah satu permukiman padat, sehingga membuat wajah kota terkesan kumuh,” kata Sekretaris Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin itu.

Namun, setelah pemkot menggusur permukiman padat di bantaran sungai dan merelokasi warga, kota ini pun mulai terlihat cantik sesuai dengan klaimnya sebagai Kota Bungas (cantik). Jargon ”Banjarmasin Bungas” yang terpampang di beberapa ruas jalan protokol, hampir tidak terbantahkan jika melihat kota yang berdiri tahun 1526 ini di pusat kota.

Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Kota Banjarmasin, Khuzaimi, mengatakan, penataan daerah tepian Sungai Martapura di tengah kota dilakukan sejak empat tahun lalu. Kawasan kumuh perlahan-lahan diubah menjadi taman hijau yang asri, sehingga menjadi kawasan wisata sekaligus ruang terbuka bagi warga untuk berkumpul, berinteraksi, dan bersosialisasi.

Sebagai kawasan wisata sungai berbasis budaya, sejak 2014 setiap akhir pekan, pasar terapung dihadirkan di tengah kota, tanpa menghilangkan pasar terapung tradisional di Muara Sungai Kuin. Tujuh puluh pedagang dikumpulkan untuk berjualan di kawasan siring setiap Minggu. ”Tujuannya agar masyarakat dan pengunjung gampang melihat pasar terapung,” kata Khuzaimi.

Menurut Khuzaimi, pemkot menggelontorkan dana cukup besar untuk membuat kawasan wisata sungai di tengah kota dan menghidupkan pasar terapung. Namun, dana yang dikeluarkan sebanding dengan manfaatnya bagi masyarakat. Bahkan, manfaatnya bagi kehidupan warga kota jauh lebih besar. Setiap Minggu, kalau tidak hujan, pengunjung yang datang ke siring 2.000 sampai 3.000 orang.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kalsel, Aloysius Jono Purwadi, mengatakan, sungai merupakan potensi wisata yang luar biasa di Banjarmasin. Wisata sungai adalah magnet untuk menarik wisatawan datang ke Banjarmasin. Namun, potensi itu cukup lama dibiarkan terbengkalai.

Menurut Purwadi, potensi pariwisata yang bernilai jual tinggi tidak cukup hanya dipromosikan, tetapi harus dibenahi dengan serius sehingga menarik wisatawan untuk datang dan selalu ingin datang kembali.

Terus ditata

Wali Kota Banjarmasin Muhidin mengatakan, pemkot berkomitmen mengembangkan Banjarmasin menjadi kota cerdas, sehat, dan nyaman. Salah satu upayanya ialah dengan terus menata wajah kota agar menjadi lebih hijau. ”Kami ingin menjadikan Banjarmasin sebagai kota cerdas, sehat, dan nyaman dengan kekhasannya sebagai kota sungai,” katanya.

Banjarmasin memang dikenal dengan julukan Kota Seribu Sungai. Menurut catatan Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Kota Banjarmasin, terdapat 102 sungai yang melintasi Banjarmasin. Sungai Martapura adalah yang terbilang istimewa. Sungai itu melintas di tengah kota dan seolah-olah membelah Banjarmasin menjadi dua bagian.

Muhidin mengatakan, pemkot berupaya menyelesaikan pembangunan siring di tengah kota. Panjang total siring di sisi timur dan barat Sungai Martapura adalah 6 kilometer. Pemkot juga mulai menata kawasan padat di Jalan Veteran, yang terletak tidak jauh dari siring. ”Daerah Veteran akan menjadi pecinan modern,” ujarnya.

Menurut Khuzaimi, pengembangan wisata berbasis sungai di tengah kota, sangat menunjang perekonomian Banjarmasin. Banjarmasin adalah pusat bisnis. Dengan adanya wisata di tengah kota, pebisnis yang datang ke Banjarmasin diharapkan memperpanjang waktu tinggal, untuk menikmati keindahan kota.

Sebagai warga Kota Banjarmasin, Hasan Zainuddin berharap pemkot tetap memprioritaskan penataan sungai untuk mewujudkan Banjarmasin sebagai kota hijau, sehat, dan nyaman. Kota ini bisa dan harus cerdas dari aspek lingkungan. Orang pun nanti dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia di kota tertua di Kalimantan ini. travel.kompas. 
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments