Angkringan, Solusi Lapar Saat Backpacking di Yogya


Saat ingin traveling murah ke Yogyakarta, jangan bingung untuk mencari tempat makannya. Sebab Kota Pelajar ini punya tempat makan yang pas untuk kantong backpacker. Kalau perut lapar, tinggal datang ke Warung Angkringan.

Sebelum berangkat ke Yogya, saya sudah mendaftar destinasi yang mau saya kunjungi. Karena waktu dan fasilitas yang terbatas, saya hanya memaksimalkan mengunjungi beberapa lokasi di kawasan kota, khususnya di sekitar Malioboro.

Di antara sekian destinasi yang hendak saya kunjungi, salah satu target saya adalah Warung Angkringan. Ya, Warung Angkringan adalah warung khas Yogya. Warung Angkringan sangat mudah ditemukan di kotanya Sri Sultan Hamengkubuwono ini. Di setiap jengkal jalan, pasti ada Warung Angkringan, terutama di sore hingga malam hari.

Hari itu tiba di Bandara Adisutjipto sekitar pukul 10.00 WIB. Naik TransJogja, saya langsung menuju kawasan Malioboro. Jalan-jalan sejenak menyusuri kawasan wisata belanja itu, saya lalu mampir di sebuah Warung Angkringan di dekat Malioboro Mall. Saya lupa siapa nama penjualnya.

Di saat lapar sudah mendera perut, sebungkus nasi kucing saya comot. Hap... Hanya beberapa suap, nasi yang hanya sekepalan tangan itu sudah berpindah ke perut. Nasi yang pulen ditambah beberapa iris telur dadar dan kering tempe itu terasa nikmat. Ya, nasi kucing adalah suguhan khas Warung Angkringan.

Entah pula mengapa disebut nasi kucing. Mungkin karena porsinya yang lebih pas untuk makan kucing, sehingga nasih bungkus itu disebut nasi kucing. Tapi dijamin, sebungkus nasi kucing tidak bakal menyelesaikan lapar yang mendera. Akhirnya, sebungkus lagi saya lahap. Untuk sebungkus nasi kucing, saat berkunjung harganya cuma Rp 1.500. Harga yang cocok buat backpacker.

Selain nasi kucing, berbagai gorengan juga menjadi suguhan tetap Warung Angkringan. Berbagai minuman panas dan dingin juga tersedia. Khusus untuk minuman panas, air panas tidak dimasak/dipanaskan di atas kompor gas, melainkan di sebuah anglo, yaitu semacam tungku yang terbuat dari tanah liat dengan sumber panas dari arang yang membara.

Oh iya, di Warung Angkringan Yogya, hal yang lazim pula adanya ibu-ibu tua yang ikut nongkrong. Itu saya temukan saat saya mampir di sebuah Warung Angkringan di dekat RS PKU Muhammadiyah. 

Warung Angkringan merupakan salah satu legenda Yogya. Konon, Angkringan dipelopori oleh Mbah Pairo, pendatang asal Cawas, Klaten, pada tahun 1950-an. Usaha itu lalu diwariskan pada anak Mbah Pairo, Lik Man pada tahun 1969. Warung Angkringan Lik Man merupakan salah satu yang paling terkenal di Yogya. Lokasinya di utara Stasiun Tugu. Di Solo, Warung Angkringan juga bisa disebut Warung HIK. Kabarnya, HIK adalah singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.

Warung Angkringan bisa saja dipersonifikasi sebagai warungnya kaum pinggiran. Tapi itu dulu. Sekarang banyak orang-orang kaya terpandang yang tak sungkan makan di warung jenis ini. Beberapa orang 'beken' seperti Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Emha Ainun Nadjib adalah beberapa pelanggan tetap Warung Angkringan Lik Man. Bahkan, sebagian mahasiswa jogja banyak yang menjadi pelanggan warung angkringan Lik Man.

Anda tertarik mampir ke Warung Angkringan? Kalau traveling ke Yogya, harus coba makanan di warung ini.
Previous
Next Post »