Susur Sungai demi Si Orangutan


Palangkaraya, kota pertama saya waktu mengunjungi Pulau Kalimantan. Kota ini ternyata relatif lebih sepi dibandingkan dengan Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, dan Pontianak ketika saya mempunyai kesempatan mendatangi kota-kota tersebut.

Ketika pesawat hampir menjejakkan rodanya di landas pacu Bandara Tjilik Riwut, terhampar di hadapan saya hutan luas dengan diselingi rawa gambut dan segelintir bangunan. Memang setiap rumah di Palangkaraya memiliki lahan yang luas karena ketika ingin membeli rumah di sana, mereka menjualnya per kaveling yang luasnya hampir 1.000–3.000 meter persegi. Ini artinya jarak antar rumah relatif jauh, walaupun di pinggir  jalan raya sekali pun.

Namun jalan raya di Palangkaraya merupakan jalan besar yang mulus dan rapi. Pantas saja dulu Bung Karno pernah merencanakan Palangkaraya untuk dijadikan ibu kota negeri ini. Hal tersebut ditandai dengan tugu pencanangan pembangunan kota Palangkaraya.

Ketika pertama kali berencana ke Kalimantan, yang ingin dilakukan adalah menjelajah ke pedalaman, menyusuri sungai dan hutan, serta melihat orang utan di habitat aslinya. Sehingga saat itu kami mengambil paket susur sungai yang menghabiskan waktu sekitar 6 jam (PP).

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu dengan 2 lantai dan kami memilih untuk duduk di lantai 2. Perjalanan dimulai sekitar pukul 13.00 dari dermaga kecil di belakang tugu pembangunan kota Palangkaraya. Sungai yang kami susuri adalah Sungai Kahayan yang kemudian bercabang ke anak sungainya. Pemandangan yang kami nikmati di sepanjang sungai adalah perkampungan penduduk, dan semakin ke hulu adalah hutan di kanan-kiri sungai.


Setelah menempuh 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat tujuan, yaitu tempat keberadaan orangutan. Namun kapal kami tidak boleh terlalu mendekat karena dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas orangutan.
Kami memperhatikan gerak-gerik orangutan yang saat itu sedang nangkring di atas batang pohon yang sudah tinggal batangnya saja. Karena kebetulan saat itu sedang gerimis, dia pun memegang sebuah karung yang nampaknya karung sisa beras dan menutupi kepalanya dengan karung tersebut.

Sungguh seperti manusia gerak-geriknya, dan orangutan pun bisa berpikir seperti manusia, yaitu mencari akal untuk melindungi diri dari air hujan. Orangutan lainnya ada yang sedang santai di pohon, ada yang sedang bercengkerama antara anak orangutan dengan orangutan lainnya yang mungkin itu adalah induknya.

Kami takjub melihat aktivitas orangutan di sana dan kami pun tak lupa untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Jumlah orangutan yang kami lihat saat itu ada sekitar 5 ekor, dan di pinggir sungai di dekat lokasi tersebut berdiri pula posko untuk ranger yang melindungi orangutan dan habitatnya. Kira-kira satu jam kami menghabiskan waktu untuk melihat orangutan, karena matahari mulai beranjak ke peraduannya, yaitu sekitar jam 17.00 kami meninggalkan tempat tersebut.

Perjalanan kembali ke dermaga tempat kami berangkat tadi memakan waktu lebih cepat karena kami mengikuti arus sungai mengalir, sedangkan ketika berangkat waktu terasa lebih lama karena kapal kami harus melawan arus sungai sehingga jalannya pun lebih lambat.

Senja itu kami mengabadikan momen matahari terbenam yang begitu indahnya, dengan semburat warna jingga di langit biru. Ketika hari sudah gelap, tempat kami di lantai 2 kapal tidak ada pencahayaan sama sekali, sehingga kami hanya mengandalkan handphone masing-masing utk mendapatkan hiburan dan memutar lagu dari handphone untuk memecah kesunyian.

Beruntung malam itu langit cerah sehingga nampaklah bintang-bintang yang berkelap-kelip menemani sang bulan yang bersinar terang di malam gelap, tentunya dengan suara-suara khas malam dari jangkrik dan teman-temannya.

Angin malam berhembus lumayan kencang sehingga kami kedinginan namun tetap menikmati momen langka tersebut yang tentunya tidak akan kami dapatkan di Jakarta.
Sekitar jam 19.30 kapal merapat di dermaga dan kami pun langsung menuju mobil yang sudah menunggu.

Malam itu kami habiskan dengan bersantap malam di Kampung Lauk, sebuah tempat makan tradisional di pinggir Sungai Kahayan yang menyajikan makanan-makanan khas Kalimantan, yaitu hidangan ikan sungai dengan sayuran khas yang tidak ditemui di Jakarta. 
Previous
Next Post »