Wisata Kalimantan : Masyarakat Ot-Danum di Hulu Sungai Kahayan

Puruk Sandukui yang terletak di Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah (c) Mansyur Geiger
Dalam mimpi masa kecil, saya tak pernah membayangkan bisa berpetualang melihat keindahan dan keunikan Pulau Borneo. Tak sekalipun saya berpikir akan melintasi hutan, menelusuri sungai, melewati pegunungan, meniduri desa demi desa yang terisolasi, mencicipi makanan yang diambil dari bahan yang rasanya aneh di lidah, menaiki kelotok, berenang di hulu sungai yang jernih, terlebih mendengar bahasa-bahasa yang beragam. Saya sangat bersyukur bisa menikmati ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini. Jika tahun 2010 lalu saya bercerita banyak mengenai perjalanan yang mengesankan di sepanjang hulu Sungai Barito, tahun 2011 ini adalah kumpulan cerita dari hulu sungai Kahayan.
Menjelajahi wilayah Heart of Borneo sisi hulu Kahayan, tepatnya disepanjang aliran sungai Miri, cabang sungai Kahayan. Disini hidup orang orang keturunan Ot-Danum (Ot berarti Hulu, Danum berarti air/sungai). Desa yang paling ujung bernama Harowu, air sungainya sangat jernih. Tetapi saya ingin bercerita tentang wilayah ini secara keseluruhan dulu, mengenai asal usul legenda mereka yang unik. Pada bab selanjutnya baru akan saya ceritakan kehidupan orang di desa ini, mata pencaharian, impian mereka juga tempat tempat indah seperti Batu Suli dan Sandukui.
Bersama rekan kerja mejeng dulu di atas getek (bus air) dengan latar belakang Batu Suli
Melintasi Pegunungan dan Bukit Perjalanan kami dimulai dari kota Palangka Raya (ibukota Kalimantan Tengah), menaiki mobil menuju Kuala Kurun dengan jarak tempuh kurang lebih 4 jam. Kuala Kurun adalah ibukota Kabupaten Gunung Mas. Mungkin nama Gunung Mas dikarenakan wilaya nya yang  dikelilingi pegunungan dan banyak menghasilkan emas. Kenyataannya memang banyak penduduk sini maupun pendatang yang bekerja mengambil emas secara liar. Dari Kuala Kurun perjalanan dilanjutkan menaiki mobil 4WD, mobil kelas berat karena cuman mobil ini yang mampu melewati medan yang tak beraspal, jalan-jalan ini bukan milik Negara tetapi milik HPH (Perusahaan Kayu). Kami menaiki strada suami Bu Kades Tumbang Masukih.
Jangan Heran, meskipun berada di daerah terisolasi, orang orang disini mampu membeli mobil strada hasil menambang emas. Dari Kuala Kurun sampai Tumbang Napoi, kelurahan Kecamatan Miri Manasa ditempuh dalam waktu 4-6 jam, perjalanan kami lebih lama karena mobil sempat di service di bengkel.
Desa ini bernama Tumbang Napoi. 25% penduduknya masih menganut Kaharingan, 5% beragam Muslim, dan sebagian besar menganut Kristen. Karena kedatangan kami bulan Desember, suasana Natal disini sangat kental, kesibukan begitu terasa, ibu-ibu sibuk memasak dan gereja dipenuhi banyak kegiatan. Desa ini memiliki air yang sangat jernih, hutannya masih sangat lebat, tidak sulit untuk mencari ulin.
Yang menarik perhatian saya justru legenda yang melekat pada masyarakat di sepanjang aliran sungai Miri dan Kahayan ini. Ya, legenda asal usul suku Ot-Danum yang berlayar menuju hilir beranak cucu hingga saat ini. Orang dayak berkeyakinan bahwa nenek moyang mereka berasal dari langit yang di turunkan ke dunia dengan wadah emas di empat tempat, salah satunya di Puncak Bukit Pamatuan, suatu dataran tinggi antara hulu sungai Kahayan dan sungai Barito. Lambung adalah salah satu nenek moyang pertama yang diciptakan, melalui keluarga Lambung inilah yang keturunannya dikemudian hari terkenal karena habitatnya yang berada diperhuluan sungai-sungai besar yakni sungai Barito, Kahayan, Kapuas dan Katingan yang disebut Ot Danum.
Banyak orang dayak yang berkulit putih dikira keturunan cina. Namun sesungguhnya kisah ini berawal dari Sempung, anak tertua Lambung yang belajar ke negeri Cina. Memang banyak versi, ada yang mengatakan bahwa Sempung memang orang Cina yang berlayar ke Borneo, tetapi ada cerita yang mengatakan bahwa Sempung hanya seorang dayak yang belajar di tanah Cina. Manuskrip Tiongkok menyebutkan tentang mendaratnya sekelompok suku. t1r4.wordpress.
Previous
Next Post »